Rabu, 24 September 2014

Akulturasi dan Asimilasi

Akulturasi dan Asimilasi terkadang terdengar sangat familiar ditelinga kita, namun apakah kita memahami arti dari masing-masing kata tersebut?. Karena itu dalam blog ini saya mencoba membahasnya karena mungkin banyak orang yang belum mengetahuinya, bukan bermaksud untuk merendahkan dan menggurui para blogger, namun kita coba untuk sharing informasi yang kita ketahui.

Akulturasi

Akulturasi mempunyai berbagai arti diantara para sarjana antropologi, tetapi semua sepaham bahwa sebuah proses akulturasi disebabkan sekelompok manusia yang berkebudayaan dihadapkan dengan kebudayaan asing yang berbeda sehingga lambat-laun kebudayaan asing itu diterima dan melebur dengan kebudayaan setempat.
            Proses akulturasi memang sudah sejak dahulu ada dalam sejarah kebudayaan manusia, tetapi akulturasi yang mempunyai sifat khusus baru timbul ketika budaya yang berkembang di Eropa Barat mulai menyebar ke seluruh penjuru dunia dan kita mengetahui bahwa bangsa Eropa waktu itu mulai menyebar keseluruh dunia mulai abad 15. Dengan meluasnya kebudayaan barat di seantero jagad membuat masalah-masalah penelitian tentang kebudayaan asli semakin sulit atau bahkan tidak mungkin diteliti oleh para sarjana antropologi, karena diseluruh muka bumi hampir tidak ada lagi suku bangsa asli seperti itu. Tetapi mengkaji akulturasi kebudayaan pada setiap kebudayaan dianggap penting karena kebudayaan merupakan suatu identitas bangsa, maka banyak kalangan antropolog sebelum perang dunia I dan II bahkan pada masa kolonialisme imperialisme yang meneliti tentang akulturasi budaya menjadikan ilmu antropologi dikalangan semua orang menjadi sebuah kebutuhan.
            Penelitian proses akulturasi merupakan bagian yang tidak mudah, selain harus dengan bukti-bukti tertulis para antropolog juga harus menggunakan metode-metode penelitian sejarah paling tidak meminta bantuan kepada ahli sejarah karena berkaitan dengan kaian masa yang telah lalu. Dari bahan kajian akulturasi budaya,  unsur  individu merupakan sosok yang dianggap penting dalam hal proses akulturasi pada setiap daerah. Hal ini karena setiap individu seperti pedagang akan membawa barang-barang yang berhubungan kebudayaan asing ataupun para pendeta yang mengajarkan ajarannya. Tentu ada reaksi tertentu jika datang kebudayaan asing yang masuk ke daerahnya namun lambat-laun karena sudah banyak ataupun sudah seringnya orang menggunakan semua akan berbaur menjadi suatu kebudayaan baru.

Asimilasi
Asimilasi adalah proses sosial yang timbul bila ada golongan manusia yang mempunyai latar belakang yang berbeda, saling bergaul secara intensif untuk waktu yang lama, sehingga golongan tadi masing-masing berubah sifatnya yang khas dan juga unsur-unsur masing-masing berubah wujud menjadi unsur-unsur kebudayaan campuran.
Proses asimilasi banyak diteliti oleh para sosiolog dari berbagai daerah dan yang timbul masalah adalah suatu gesekan individu ataupun kelompok yang berbeda seperti asia dengan eropa ataupun seperti indonesia yang mempunyai banyak suku dan agama. Penelitian dari para ahli terbukti asimilasi hanya terjadi pada kelompok-kelompok yang bergaul dalam satu pergaulan yang intensif atau berkepanjangan.



Jadi??
Akulturasi dan Asimilasi bila dilihat secara arti luas memang sama yaitu percampuran suatu unsur-unsur sosial masyarakat pada setiap kelompok. Namun, pada akulturasi disini lebih terfokus pada percampuran budaya yang ada di dunia seperti budaya eropa yang berakulturasi dengan budaya-budaya yang ada di penjuru dunia karena adanya masa kolonial dan imperial sebagai pemicunya. Sedangkan pada proses asimilasi percampuran unsur tersebut hanya bersifat individual ataupun paling besar suatu kelompok dan prosesnyapun tidak tercampur begitu saja, dikarenakan objeknya terlalu detail asimilasi membutuhkan interaksi setiap kelompok ataupun individu secara intensif untuk dapat menjadikan unsur-unsur kebudayaan campuran pada suatu kelompok tersebut dan bisa disebut dengan asimilasi.

Pidato Jawaharlal Nehru Di Delhi (Konfrensi Inter Asia 20–25 Januari 1949)


“Friends and fellow Asians! What has brought you here, men and women of Asia? Why have you come from the various countries of this mother continent of ours and gathered together in the ancient city of Delhi? Some of us, greatly daring, sent you invitation for this Conference and you gave a warm welcome to that invitation. And yet it was not merely that call from us but some deeper urge that brought you here.
We stand at the end of an era and on the threshold of a new period of history. Standing on this watershed which divides two epochs of human history and endeavour, we can look back on our long past and look forward to the future that is taking shape before our eyes. Asia, after a long period of quiescence, has suddenly become important again in world affairs. If we view the millennia of history, this continent of Asia, with which Egypt has been so intimately connected in cultural fellowship, has played a mighty role in the evolution of humanity. It was there that civilization began and man started on his unending adventure of life. Here the mind of man searched unceasingly for truth and the spirit of man shone out like a beacon which lightened up the whole world.
This dynamic Asia from which great streams of culture flowed in all directions, gradually became static and unchanging. "
This dynamic Asia from which great streams of culture flowed in all directions, gradually became static and unchanging. Other peoples and other continents came to the fore and with their dynamism spread out and took possession of great parts of the world. This mighty continent became just a field for the rival imperialisms of Europe, and Europe became the centre of history and progress in human affairs.
A change is coming over the scene now and Asia is again finding herself. We live in a tremendous age of transition and already the next stage takes shape when Asia takes her rightful place with the other continents.
It is at this great moment that we meet here and it is the pride and privilege of the people of India to welcome their fellow Asians from other countries, to confer with them about the present and the future, and lay the foundation of our mutual progress, well-being and friendship.
The idea of having an Asian Conference is not new and many people have thought of it. It is indeed surprising that it should not have been held many years earlier, yet perhaps the time was not ripe for it and any attempt to do so would have been superficial and not in tune with world events. It so happened that we in India convened this Conference, but the idea of such a Conference arose simultaneously in many minds and in many countries of Asia. There was a widespread urge and an awareness that the time had come for us, peoples of Asia, to meet together, to hold together and to advance together. It was not only a vague desire but a compulsion of events that forced all of us to think along these lines. Because of this, the invitation we in India sent out brought an answering echo and a magnificent response from every country of Asia.
Perhaps one of the notable consequences of the European domination of Asia has been the isolation of the countries of Asia from one another. "
We welcome you delegates and representatives from China, that great country to which Asia owes so much and from which so much is expected; from Egypt and the Arab countries of western Asia, inheritors of a proud culture which spread far and wide and influenced India greatly; from Iran whose contacts with India go back to the dawn of history; from Indonesia and Indo-China whose history in intertwined with India’s culture, and where recently the battle of freedom has continued — a reminder to us that freedom must be won and cannot come as a gift; from Turkey that has been rejuvenated by the genious of a great leader; from Korea and Mongolia, Siam, Malaya and the Philippines; from the Soviet Republics of Asia which have advanced so rapidly in our generation and which have so many lessons to teach us; from our neighbors Afghanistan, Tibet, Nepal, Bhutan, Burma and Ceylon to whom we look especially for co-operation and close and friendly intercourse. Asia is very well represented at this Conference, and if one or two countries have been unable to send representatives, this was due to no lack of desire on their part or ours, but circumstances beyond our control came in the way. We welcome also observers from Australia and New Zealand because we have many problems in common, especially in the Pacific and in the Southeast region of Asia, and we have to co-operate together to find solutions.
As we meet here today, the long past of Asia rises up before us, the troubles of recent years fade away, and a thousand memories revive. But I shall not speak to you of these past ages with their glories and triumphs and failures, nor of more recent times which have oppressed us so much and which still pursue us in some measure.
During the past two hundred years we have seen the growth of Western imperialism and of the reduction of large parts of Asia to colonial or semi-colonial status. Much has happened during these years, but perhaps one of the notable consequences of the European domination of Asia has been the isolation of the countries of Asia from one another. India always had contacts and intercourse with her neighbor countries in the Northwest, the Northeast, the East and the Southeast. With the coming of British rule in India these contacts were broken off and India was almost completely isolated from the rest of Asia. The old land routes almost ceased to function and our chief window to the outer world looked out on the sea routes which led to England. A similar process affected the other countries of Asia also. Their entire economy was bound up with some European imperialism or other; even culturally they looked towards Europe and not to their own friends and neighbors from whom they had derived so much in the past.
Today this isolation is breaking down because of many reasons, political and other. The old imperialisms are fading away. The land routes have revived and air travel suddenly brings us very near to each other. This Conference itself is significant as an expression of that deeper urge to the mind and spirit of Asia which has persisted in spite of the isolationism which grew up during the years of European domination. As that domination goes, the walls that surrounded us fall down and we look at each other again and meet as old friends long parted.
In this Conference and in this work there are no leaders and no followers. All countries of Asia have to meet together on an equal basis in a common task and endeavour. It is fitting that India should play her part in this new phase of Asian development. Apart from the fact that India herself is emerging into freedom and independence, she is the compelling factor, and a geographically she is so situated as to be the meeting point of western and northern and eastern and southeast Asia. Streams of culture have come to India from the west and the east and been absorbed in India, producing the rich and variegated culture which is India today. At the same time, streams of culture have flowed from India to distant parts of Asia. If you would know India you have to go to Afghanistan and Western Asia, to Central Asia, to China and Japan and to the countries of Southeast Asia. There you will find magnificent evidence of the vitality of India’s culture which spread out and influenced vast numbers of people.
There came the great cultural stream from Iran to India in remote antiquity. And then the constant intercourse between India and the Far East, notably China. In later years Southeast Asia witnessed an amazing efflorescence of Indian art and culture. The mighty stream which started from Arabia and developed as a mixed Irano-Arabic culture poured into India. All these came to us and influenced us and yet so great was the powerful impress of India’s own mind and culture that it could accept them without being itself swept away or overwhelmed. Nevertheless we all changed in the process and in India today all of us are mixed products of these various influences. An Indian, wherever he may go in Asia, feels a sense of kinship with the land he visits and the people he meets.
The countries of Asia can no longer be used as pawns by others; they are bound to have their own policies in world affairs. "
I do not wish to speak to you of the past but rather of the present. We meet here not to discuss our past history and contacts but to forge links for the future. And may I say here that this Conference, and the idea underlying it, is no way aggressive or against any other continent or country. Ever since news of this Conference went abroad some people in Europe and America have viewed it with doubt imagining that this was some kind of a Pan-Asian movement directed against Europe or America. We have no designs against anybody; ours is the great design of promoting peace and progress all over the world. For too long we Asia have been petitioners in Western courts and chancellories. That story must now belong to the past. We propose to stand on our own feet and to co-operate with all others who are prepared to co-operate with us. We do not intend to be the plaything of others.
In this crisis in world history Asia will necessarily play a vital role. The countries of Asia can no longer be used as pawns by others; they are bound to have their own policies in world affairs. Europe and America have contributed very greatly to human progress and for that we must yield them praise and honour, and learn from them the many lessons they hay to teach. But the West has also driven us into wars and conflicts without number and even now, the day after a terrible war, there is talk of further wars in the atomic age that is upon us. In this atomic age Asia will have to function effectively in the maintenance of peace. Indeed there can be no peace unless Asia plays her part. There is today conflict in many countries, and all of us in Asia are full of our own troubles. Nevertheless, the whole spirit and outlook of Asia are peaceful, and the emergence of Asia in world affairs will be powerful influence for world peace.
Peace can only come when nations are free and also when human beings everywhere have freedom and security and opportunity. Peace and freedom, therefore, have to be considered both in their political and economic aspects. The countries of Asia, we must remember, are very backward and the standards of life are appallingly low. These economic problems demand urgent solution or else crisis and disaster might overwhelm us. We have, therefore, to think in terms of the common man and fashion our political, social, and economic structure so that the burdens that have crushed him be removed, and he may have full opportunity for growth.
We have arrived at a stage in human affairs when the ideal of that ‘One World’ and some kind of a world federation seems to be essential though there are many dangers and obstacles in the way. We should work for that ideal and not any grouping which comes in the way of this larger world group. We therefore support the United Nations structure which is painfully emerging from its infancy. but in order to have ‘One World’, we must also in Asia think of the countries of Asia co-operating together for that larger ideal.
This conference, in a small measure, represents this bringing together of the countries of Asia. Whatever it may achieve, the mere fact of its taking place is itself of historic significance. Indeed this occasion is unique in history for never before has such a gathering met together at any place. So even in meeting we have achieved much and I have no doubt that out of this meeting greater things will come. When the history of our present times is written, this event may well stand out as a landmark which divides the past of Asia from the future. And because we are participating in this making of history something of the greatness of historic events comes to us all.
We shall not discuss the internal politics of any country because that is rather beyond the scope of our present meeting. "
This Conference will split up into committees and groups to discuss various problems which are common concerns to all of us. We shall not discuss the internal politics of any country because that is rather beyond the scope of our present meeting. Naturally we are interested in these internal politics because they act and react on each other, but we may not discuss them at this stage, for if we do so, we may lose ourselves in interminable arguments and complications. We may fail to achieve the purpose for which we have met. I hope that out of this Conference some permanent Asian Institute for the study of common problems and to bring about closer relations will emerge; also perhaps a School of Asian Studies. further, we might be able to organise interchange of visits and exchanges of students and professors so that we might know each other better. There is much else we can do, but I shall not venture to enumerate all the subjects for it is for you to discuss them and arrive at some decisions.
We seek no narrow nationalism. Nationalism has a place in each country and should be fostered, but it must not be allowed to become aggressive and come in the way of international development. Asia stretches her hand out in friendship to Europe and America as well as to our suffering brethren in Africa. We must help them to take their rightful place in the human family. The freedom that we envisage is not to be confined to this nation or that or to a particular people, but must spread out over the whole human race. That universal human freedom cannot also be based in the supremacy of any particular class. It must be the freedom of the common man everywhere and full of opportunities for him to develop.
We think today of the great architects of Asian freedom — Sun Yat-sen, Zaghlul Pasha, the Ataturk Kemal Pasha and others, whose labours have borne fruit. We think also of that great figure whose labours and whose inspiration have brought India to the threshold of her independence — Mahatma Gandhi. We miss him at this Conference and I yet hope that he may visit us before our labours end. He is engrossed in the service of the common man in India, and even this Conference could not drag him away from it.
All over Asia we are passing through trials and tribulations. In India also you will see conflict and trouble. Let us not be disheartened by this: this is inevitable in an age of mighty transition. There is a new vitality and powerful creative impulse in all the peoples of Asia. The masses are awake and demand their heritage. Strong winds are blowing all over Asia. Let us not be afraid of them but rather welcome them for only with their help can we build the new Asia of our dreams. Let us have faith in these great new forces and the things which are taking shape. Above all let us have faith in the human spirit which Asia symbolised for these long ages past.”

(Jawaharlal Nehru)

Kamis, 18 September 2014

Pidato Bung Tomo 10 november 1945

Ini adalah pidato dari bung Tomo untuk membakar semangat para pejuang kemerdekaan di Surabaya, saat itu sekutu Belanda pada Agresi militer menyerang Surabaya dari darat, laut maupun udara.....

Bismillahirrahmanirrahiim.....
MERDEKA!!!

Saudara-saudara rakyat jelata di seluruh Indonesia,
Terutama, saudara-saudara penduduk kota Surabaya

Kita semuanya telah mengetahui bahwa hari ini tentara Inggris telah menyebarkan pamlet-pamlet yang memberikan suatu ancaman kepaDa kita semua.
Kita diwajibkan untuk dalam waktu yang mereka tentukan, menyerahkan s
enjata-senjata yang kita rebut dari tentara Jepang. Mereka telah minta supaya kita datang pada mereka itu dengan mengangkat tangan.
Mereka telah minta supaya kita semua datang kepada mereka itu dengan membawa bendera putih tanda menyerah kepada mereka.

Saudara-saudara,
didalam pertempuran-pertempuran yang lampau, kita sekali lagi telah menunjukkan bahwa rakyat Indonesia di Surabaya
Pemuda-pemuda yang berasal dari Maluku,
Pemuda-pemuda yang berasal dari Sulawesi,
Pemuda-pemuda yang berasal dari pulau Bali,

Pemuda-pemuda yang berasal dari Kalimantan,
Pemuda-pemuda dari seluruh Sumatera,
Pemudah Aceh, Pemuda Tapanuli, dan seluruh Pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini,

Di dalam pasukan-pasukan mereka masing-masing dengan pasukan-pasukan rakyat yang dibentuk di kampung-kampung,
telah menunjukkan satu pertahanan yang tidak bisa dijebol,
telah menunjukkan satu kekuatan sehingga mereka itu terjepit di mana-mana.

Hanya karena taktik yang licik daripada mereka itu, saudara-saudara
Dengan mendatangkan presiden dan pemimpin-pemimpin lainnya ke Surabaya ini, maka kita tunduk untuk menghentikan pertempuran.
Tetapi pada masa itu mereka telah memperkuat diri, dan setelah kuat sekarang inilah keadaannya.

Saudara-saudara Kita semuanya,
Kita bangsa Indonesia yang ada di Surabaya ini akan menerima tantangan tentara Inggris ini.
Dan kalau pimpinan tentara Inggris yang ada di Surabaya ingin mendengarkan jawaban Rakyat Indonesia,
Ingin mendengarkan jawaban seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini,
Dengarkanlah ini hai tentara Inggris,
Ini jawaban Rakyat Surabaya..
Ini jawaban Pemuda Indonesia kepada koe sekalian
Hai tentara inggris!!!
Koe menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera putih takluk kepadamu,
menyuruh kita membawa senjata-senjata yang kita rampas dari Jepang untuk diserahkan keapda mu

Tuntutan itu walaupun kita tahu bahwa
koe sekalian akan mengancam kita untuk menggempur kita dengan seluruh kekuatan yang ada,
tetapi inilah jawaban kita:
Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih menjadi merah dan putih,
maka selama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapapun juga!!!

Saudara-saudara rakyat Surabaya,
siaplah keadaan genting tetapi saja peringatkan sekali lagi, jangan mulau menembak,
baru kalau kita ditembak, maka kita akan ganti menyerang mereka itu.

Kita tunjukkan bahwa kita adalah benar-benar orang yang ingin merdeka.
Dan untuk kita, saudara-saudara, lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka.

Semboyan kita tetap: MERDEKA ATAU MATI.

Dan kita yakin, saudara-saudara, pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita
sebab Allah selalu berada di pihak yang benar
percayalah saudara-saudara,
Tuhan akan melindungi kita sekalian.

Allahu Akbar...!! Allahu Akbar...! Allahu Akbar...!!!
MERDEKA!!!

( Bung Tomo )

Puisi Buya HAMKA untuk M. Natsir

Kepada Saudaraku M. Natsir

Meskipun bersilang keris di leher
Berkilat pedang di hadapan matamu
Namun yang benar kau sebut juga benar
Cita Muhammad biarlah lahir
Bongkar apinya sampai bertemu
Hidangkan di atas persada nusa
Jibril berdiri sebelah kananmu

Mikail berdiri sebelah kiri
Lindungan Ilahi memberimu tenaga
Suka dan duka kita hadapi
Suaramu wahai Natsir, suara kaum - mu
Kemana lagi, Natsir kemana kita lagi
Ini berjuta kawan sepaham
Hidup dan mati bersama -sama
Untuk menuntut Ridha Ilahi
Dan aku pun masukkan
Dalam daftarmu …….!


(Buya HAMKA))


Selasa, 16 September 2014

Tan Malaka: Sang Revolusioner Legendaris Harus Takluk Pada Revolusi di Republik yang Dia Cita-Citakan


ABSTRAK: Sutan Ibrahim Datuk Tan Malaka atau Tan Malaka adalah pejuang yang militant, radikal dan revolusioner. Dia telah banyak melahirkan pemikiran-pemikiran yang orsinil, brilian dan berbobot. Dikenal sebagai sosok pejuang yang misterius dan seorang revolusioner yang legendaris membuat nama dari seorang Tan Malaka pada masa perjuangan kemerdekaan begitu flamboyan, hingga tokoh-tokoh pejuang nasional seperti Soekarno, Hatta maupun M. Yamin mengamini pernyataan tersebut. Sepanjang hidup Tan Malaka sebelum masa revolusi dia habiskan di Luar Negeri sebagai buronan politik karena agitasinya yang dianggap berbahaya, menjadi seorang buronan Intelejen Belanda, Amerika, Inggris bahkan Jepang sepertinya sudah menjadi makanan yang harus ditelan mentah-mentah oleh Tan Malaka. Hingga masa revolusi di Indonesia di mulai barulah Tan Malaka kembali ke pangkuan ibu pertiwi untuk sama-sama berjuang demi cita-cita bersama “Republik Indonesia”.
KATA KUNCITan Malaka, Republik, PKI, Pemberontak, Revolusi, sang revolusioner Legendaris, komunis

Nama Tan Malaka di kalangan akademisi mungkin terdengar tidak aneh namun apa yang terjadi pada kalangan masyarakat awan hasilnya lain, mereka seolah tidak mengenal seorang sosok yang sangat fenomenal saat perjuangan kemerdekan Republik Indonesia. Memang, rezim orde baru telah beberapa kali menenggelamkan namanya pada daftar para pahlawan Indonesia yang memang pada saat itu rezim orde baru merupakan pihak yang anti-komunis. Mendengar hal ini menjadi tidak mengherankan kenapa sosok Tan Malaka begitu ciut perannya pada Republik ini, pencitraan Tan Malaka pun semakin Hari setelah jatuhnya rezim orde baru semakin baik dan mulai dikenal oleh masyarakat umum meski tidak sefenomenal founding father Republik Indonesia Soekarno ataupun Muhammad Hatta.
Setengah dari sepanjang umurnya dia habiskan di luar Indonesia entah itu untuk menimba ilmu ataupun sekedar menjadi seorang buronan Politik yang terus diburu oleh Intelejen Belanda, Inggris, Amerika maupun jepang. Ide yang revolusioner dengan dasar cita-cita kemerdekaan Indonesialah yang membuat dia menjadi buronan politik dan harus berpindah-pindah tempat ke berbagai Negara demi menyelamatkan diri. Dalam pelariannya di luar negeri dia banyak membuahkan tulisan-tulisan yang mempunyai cita-cita sangat tinggi seperti yang diatulis di Canton yang berjudul “naar de Republiek Indonesia”(menuju Republik Indonesia) yang merupakan sebuah cita-cita Indonesia merdeka dengan konsep republic (Susilo, 2008: 5), karya ini berisi konsep tentang negara Indonesia yang tengah diperjuangkan. Lebih dulu dari pleidoi Mohammad Hatta didepan pengadilan Belanda di Den Haag yang berjudul “Indonesia Vrije” (Indonesia Merdeka) (1928) atau tulisan Soekarno yang berjudul “Menuju Indonesia Merdeka” (1933). Karya lain Tan Malaka yang berjudul Massa Actie “aksi Massa” (1926) berhasil menyulut semangat para pemuda dan tokoh pergerakan untuk memperjuangakan kemerdekaan 100% dari segala bentuk penjajahan. Seteha itu bahkan Muhamad Yamin menjulukinya “Bapak Republik Indonesia” dan Soekarno pun menjulukinya “orang yang mahir dalam Revolusi”.
TAN MALAKA, PARTAI KOMUNIS INDONESIA (PKI) DAN REVOLUSI
Pemikiran-pemikiran Tan Malaka memang sangat condong pada komunis, bahkan saat pelarian pun Tan malaka sempat bergabung dengan Komintern (komunis Internasional) untuk mewakili komunis Asia Tenggara termasuk Indonesia. Disana dia bertemu dengan tokoh-tokoh komunis Dunia seperti Ho Chi Minh dan tokoh terkenal seperti Lenin, Stalin dan Trotsky (Susilo, 2008: 18). Kedekatan dengan pemikiran-pemikiran Komunis sudah tercium sejak dia mulai belajar di Belanda dan membaca tentang teori-teori Marxis dan komunis disana. Pada tahun 1921 sepulang perguruannya di luar negeri Tan Malaka sempat terpilih menjadi ketua PKI, namun karena dasar pondasi yang berbeda antara Tan Malaka dengan PKI akhirnya pada tahun 1927 PKI dan Tan Malaka bercerai dan mencari jalannya masing-masing, sebelum itu pemberontakan PKI di madiun tahun1926 sempat di kritik pedas oleh Tan Malaka (Kahin, 1995).
Sejak tahun 1922 Tan Malaka tidak lagi berada di Indonesia, dan selama bertahun-tahun menjadi buronan politik Intelejen Anglo Saxon karena pemikiran-pemikiran tentang Indonesia yang dianggap sangat berbahaya, baru pada kependudukan jepang tahun 1942 Tan malaka kembali ke Indonesia karena merasa kondisi di Indonesia saat itu aman. Ide, gagasan, pemikiran Tan Malaka terus terasah dan mengeluarkan karya-karya terkenal seperti Madilog, serta menularkan pengetahuannya dengan pemuda-pemuda lain di sekitarnya.
Pada tahun 1946, Tan Malaka merasakan penjara di Negeri sendiri, bersama pemimpin persatuan perjuangan lainnya tan malaka dijebloskan ke penjara karena peristiwa 3 juli. Tan Malaka dengan pemimpin persatuan Perjuangan lainnya melakukan pemberontakan terhadap Kabinet Sjahrir II karena ketidak pasan terhadap pemerintahan yang dilakukan Sjahrir dan mencoba mengkudeta kekuasaannya. (Poesponegoro, 1984). Hal ini mengisyaratkan bahwa harus digarisbawahi betapa ketatnya persaingan dalam negeri, dan betapa dekatnya mereka pada persaingan antar saudara dan ini adalah percik-percik api dalam perang saudara seperti yang terjadi di Jawa (Ricklefs, 2008: 470). Tan Malaka sebagai seorang yang ahli revolusi harus bertekuk lutut dihadapan para pemimpin bangsa Indonesia waktu itu, daya dan upaya dari seorang Tan Malaka rupanya belum mampu merubah pandangan rakyat Indonesia ke pangkuannya sehingga masih banyak dari rakyat yang tidak mendukung Tan Malaka.
Tahun 1948 adalah tahun dimana dia di keluarkan dari penjara yang tidak pernah ada pengadilan sebelumnya. Dalam tahun 1948 dia terus melakukan agitasi politiknya ia mendirikan partai Murba dan memproklamirkan diri sebagai presiden Republik Rakyat Indonesia setelah mengetahui presiden Soekarno dan Hatta sedang detawan oleh Belanda. Berbekal testamen Politik dari Presiden Soekarno, Tan Malaka berhak memimpin Revolusi Indonesia yang saat itu ada kekosongan pemimpin. Tan Malaka juga tidak mengakui adanya pemerintahan darurat di Sumatera yang dipimpin oleh Sjafrudin Prawiranegara (Susilo, 2008: 161). Dengan agitasi politiknya itu menjadikan boomerang bagi Tan Malaka sendiri, sehingga dia sangat diburu oleh Tentara Republik sebagai penjahat Republik dan pemberontak terhadap Republik. Akhirnya setelah diburu selama beberapa hari Tan Malaka ditangkap oleh TNI di daerah Gringging, Kediri. Dalam laporan resmi TNI oleh Lettu Soekadji kepada Letkol Soerachman menyatakan bahwa Tan Malaka sudah diadili dilapangan karena berpacu pada aturan Hukum darurat militer.
Kematian Tan Malaka di pucuk senapan tentara Republik dinilai oleh oleh Harry A. Poeze , tak lepas dari perintah yang tak jelas dari Soengkono sebagai Panglima Divisi Jawa Timur. Tragedi kematian Tan Malaka pun membuat Soengkono diberhentikan sebangai Panglima Divisi Jatim oleh Hatta. Dan pada 28 Maret 1963 Soekarno memasukan nama Tan Malaka sebagai pahlawan nasional (Poeze, 1988). Selopanggung diyakini sebagai tempat eksekusi TNI terhadap Tan Malaka, kini selopanggung yang diyakini tempat pemakaman Tan Malaka terus diidentifikasi untuk mencari kebenarannya.
Kehidupan Tan Malaka sebagai seorang pejuang Kemerdekaan dan Revolusi Indonesia begitu misterius, hingga ajal menjemputnya misteri tentang dirinya masih banyak yang menjadi teka-teki. Memang kematian Tan Malaka di Pucuk senjata Tentara Republik Indonesia memang sangat disayangkan, tentara dari Republik Indonesia yang dia cita-citakan lah yang harus mengakhiri hidupnya sebagai seorang yag ahli dalam revolusi. Bagaimanapun juga Tan Malaka adalah bagian dari potongan-potongan sejarah negeri ini, Tan Malaka bersama tokoh-tokoh perjuangan lain bersama-sama menjadikan negeri ini bernama Republik Indonesia. Hasih dari buah kerja mereka selama ini terbayar dengan berdirinya sebuah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jasa-jasa mereka untuk Republik tidak akan pernah terbayar oleh generasi selanjutnya, mungkin bila mereka para pejuang Republik ini dapt berkata pada kita selaku generasi muda mereka akan berkata “jagalah Republik ini, nak”. Pesan yang tidak akan pernah tersampaikan oleh para pejuang, namun kita harus tahu, kerja keras mereka dalam membangun negeri ini menjadikan isyarat tersendiri bagi kita yang meneruskan cita-cita mereka yang telah mendahului kita.
Salam, HISTORIA…!!

Referensi:
Kahin, George McTurnan. 1995. Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia. Surakarta: UNS Press
Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. 1984. Sejarah Nasional Indonesia VI. Jakarta: Balai Pustaka
Poeze, Harry A. 1988. Tan Malaka: pergulatan Menuju Republik 1897-1925. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti
Ricklefs, M C. 2008. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta
Susilo, Taufik Adi. 2008. Tan Malaka Biografi Singkat. Jogjakarta: Garasi

Salam Tegur Sapa


Selamat siang hari saat saya mulai menulis ini untuk menyapa yang terhormat sang blogger dan pembaca setia blog saya. Setelah sekian lama vakum karena ketidak berdayaan akal sehat (malas) akhirnya saya "ingin" memulai kembali mencurahkan isi pikiran kepada blog ini. pada tahun 2012 mungkin terakhir kalinya saya mendetikan jari pada blog ini, terakhir kalinya mungkin saya menulis tentang pasukan turki ustmani "bisa dilihat posting sebelumnya". pada perkembangan terakhir saya menulis yang berkaitan dengan masa lalu "sejarah", saya mulai berpikir untuk memperluas tulisan saya menjadi lebih umum namun tidak dipungkiri karena latar belakang saya sebagai penggila sejarah, tulisan akan lebih banyak tentang kajian sejarah dibanding yang lain tak mengurangi tulisan saya tentang hal yang umum.
Sebelum memulai hal yang paling menyenangkan dalam hidup saya yaitu menulis, ijinkan saya terlebih dahulu memperkenalkan diri. saya adalah anak pertama dari dua bersaudara dari rahim ibu saya yang disuntikan cairan "magma" sekitar 9 bulan sebelumnya oleh bapak saya, ibu saya bernama Sugiyani alias Misti dan bapak saya itu bernama Saimin. mereka dua orang hebat yang membesarkan saya hingga saat ini. sementara saya sendiri bernama Sigit Purnomo putro kini sebagai mahasiswa tingkat akhir disebuah Universitas Negeri di Kota Bandung sebut saja inisialnya UPI. saya berasal dari Sragen tapi lebih dekat ke Solo, telah lama tinggal di Kabupaten Sukabumi sebagai orang perantauan mengikuti orang tua yang hanya berjualan Bakso di terminal Cibadak. kurang lebih masa kecil saya saya habiskan di dua tempat yaitu Sukabumi dan Solo, maka dari itu saya punya dua bahasa ibu yaitu jawa dan Sunda. mungkin cukup perkenalan terhadap diri saya pribadi, maksud saya tidak lebih dari sebuah pepatah "tak kenal maka tak sayang" maka saya memohon diri memperkenalkan diri saya kepada pembaca.
Terima kasih telah membaca blog dari seseorang yang ingin terus belajar ini. Secercah harapan dan segenggam asa selalu meliputi dalam setiap detikan jari menyentuh tombol tak bernyawa ini, semoga blog ini sangat berguna bagi kita semua sebagai umat Tuhan di Dunia. Amin

salam hangat penulis,
Sigit Purnomo Putro